“Cita-cita kamu sudah gede mau jadi apa?” Sebuah pertanyaan yang mungkin pernah kita dengar waktu masih muda. Apakah “dokter” masih menjadi salahsatu alternatif jawaban yang terlintas di benak kawula muda dari dulu hingga saat ini? Sebetulnya enak dan nyaman kah pekerjaan sebagai dokter itu? Terus semudah itukah mewujudkan cita-cita menjadi dokter, semudah ucapan seorang anak yang menyebutkan cita-citanya? Mari coba kita intip sedikit perjalanan untuk menjadi dokter di Indonesia.
Ada masanya ketika profesi dokter menjadi primadona dan menjadi pekerjaan yang diidamkan banyak orang. Kenapa tidak? “dokter A rumahnya besar, mobilnya ada dua, terus bolak-balik pula liburannya keluar negeri..” Mungkin itu salahsatu motivasi terbesar orang-orang ingin menjadi dokter. Dokter identic dengan kekayaan dan kesejahteraan finansial. Namun saat ini, disaat perkembangan zaman, media dan informasi yang tersebar dengan mudahnya di media, khususnya di Indonesia, dimana banyak isu-isu miring tentang dunia medis. Apakah animo masyarakat terhadap profesi dokter masih tetap sama? Diluar hal tersebut, perjuangan menjadi seorang dokter adalah perjalanan yang tidak sederhana. Setidaknya, perlu waktu 7 tahun untuk mendapatkan gelar “dr.” yang disimpan di depan nama ini.
Dokter adalah sebuah profesi. Bukan sebatas posisi atau pekerjaan semata, tapi profesi kemanusiaan yang terikat oleh seperangkat aturan hukum, adat dan etika. Dalam bidangnya, pekerjaan dokter adalah seni, yang bisa berbeda antara satu dan lainnya dan diberi ruang sebebas mungkin dalam menentukan keputusan, namun juga tidak sebebas itu karena terikat aturan dan keilmuan. Profesi dokter menjadi suatu hal yang kompleks, menarik dan penuh dilemma.
Dalam perjalanan proses pendidikan seorang calon dokter, dia harus melalui waktu pendidikan yang cukup panjang dan biaya yang mungkin tidak sedikit. Dari segi waktu, seorang calon dokter harus melalui setidaknya beberapa tahapan pendidikan, yaitu:
- Pendidikan sarjana kedokteran
- Pendidikan profesi dokter
- Internship dokter
Jadi, setelah seorang pelajar melewati bangku SD, SMP dan SMA/sederajat, untuk menjadi dokter mereka perlu melewati ketiga tahapan tersebut diatas.
Pendidikan Sarjana Kedokteran
Pada tahap ini, anda adalah seorang mahasiswa S1. Sama seperti mahasiswa jurusan lainnya, mahasiswa kedokteran akan digembleng 80% keilmuannya dan 20% proporsi pendidikan skill-nya. Pendidikannya meliputi:
>> Kuliah umum yang diberikan oleh dosen (yang umumnya adalah seorang dokter) kepada seluruh mahasiswa,
>> Kelas khusus / kelompok belajar yang dibimbing oleh tutor masing-masing dalam membahas kasus dan memperdalam materi kedokteran,
>> Kelas skill yang akan mempelajari teknik-teknik dan kemampuan dasar dalam dunia medis (seperti menyuntik, jahit luka, pasang infus dan lainnya),
>> Hingga kelas laboratorium yang akan mempelajari segala hal lebih riil, seperti anatomi tubuh pada cadaver, organ tubuh hewan dan reaksinya pada obat, struktur bakteri, virus dan parasit dibawah mikroskop, dan banyak hal lainnya.
Tak jarang, perkuliahan di jurusan kedokteran memerlukan waktu lebih lama, dan proporsi liburnya lebih sedikit dibanding jurusan lain. Lalu diakhir masa perkuliahan, sama seperti yang lainnya, anda dituntut untuk mengikuti KKN dan mengerjakan tugas akhir / skripsi.
Pada tahap ini, anda memerlukan waktu 3,5 sampai 4 tahun sampai anda dinyatakan lulus dan wisuda. Selamat saat ini anda sudah memiliki gelar sarjana kedokteran (S.Ked), namun mohon maaf, gelar ini belum bisa dipakai untuk anda berpraktek sebagai dokter. Masih perlu jalani kembali pendidikan keprofesian sebagai tahapan selanjutnya.
Pendidikan Profesi Dokter
Pada saat ini, anda masih seorang pelajar, seorang sarjana yang mengasah lebih dalam lagi kemampuan profesional menjadi seorang dokter. Orang-orang memanggilnya “koas” atau “co-assistant” yang artinya pembantu asisten dokter, namun, istilah yang lebih tepat untuk mereka adalah dokter muda. Pendidikan profesi dokter memiliki proporsi yang berbeda dibandingkan ketika pendidikan sarjana, pada saat ini 80% pendidikannya untuk mengasah skill di lapangan, dan 20%-nya adalah keilmuan.
Pada pendidikan profesi dokter, anda akan diajak berkeliling ke seluruh departemen dan bagian spesialistik di Rumah Sakit Pendidikan, meliputi bagian Penyakit Dalam, Bedah, Anak, Kulit, Saraf dan lainnya. Hal tersebut untuk memantapkan keilmuan umum tentang spesialistik bidang kedokteran, skill-skill penunjang yang wajib diketahui dan tak jarang berhadapan langsung dengan pasien-pasien dari berbagai jenis bagian. Dokter muda juga akan mendapat proporsi waktu jaga/praktek berhadapan langsung dengan pasien di poliklinik dan IGD, namun masih dibawah supervisi dokter senior.
Lama pendidikan profesi dokter adalah 1,5 hingga 2 tahun, dan pada akhirnya anda akan menghadapi ujian nasional dan praktikum nasional yang akan menentukan kelulusan anda. Bila lulus, akan menjalani wisuda kembali, lalu akan disumpah melalui acara “sumpah dokter”, dan gelar dokter (dr.) pun akan diraih.
Sekarang setelah gelar dokter diraih, apakah bisa langsung praktek? Eitss, masih belum. Meski sudah menjadi dokter, para lulusan dokter baru ini harus menjalani program internship.
Internship Dokter
Program internship dokter adalah sejenis program magang di Rumah sakit, IGD dan Puskesmas wilayah tertentu di Indonesia, para lulusan dokter harus bersaing memilih lokasi internship, bila tidak dapat, maka siap-siap saja ditempatkan diluar pulau hingga daerah terpencil.
Sebelum memulai praktek di lokasi internship, para lulusan dokter baru harus mengurus terlebih dulu Surat Tanda Registrasi (STR) yang masih berlabelkan STR Internship. STR merupakan surat tanda bahwa dia telah teregistrasi dan terdaftar sebagai tenaga medis (dokter) dan diakui secara nasional. STR ini akan dipakai untuk pembuatan Surat Izin Praktek (SIP) di lokasi internship nanti dan didaftarkan juga kedalam keanggotaan IDI setempat.
Pada tahap ini para lulusan dokter sudah dianggap sebagai dokter dan bisa melakukan praktek secara terbatas sesuai kompetensinya. Para lulusan dokter masih dibimbing agar lebih memantapkan lagi keahliannya, serta diwajibkan membuat laporan berkala. Bagaimana dengan gajinya? Para lulusan dokter baru ini masih harus bersabar dengan gaji yang seadanya, anggarannya beragam, tergantung dari anggaran pemerintah daerah dan RS dimana mereka ditempatkan.
Program Internship dokter dilaksanakan selama 1 tahun dan setelah melewati program ini, para dokter sudah dapat mengurus kembali STR-nya menjadi STR dokter seumur hidup. Para dokter sudah bisa kembali ke daerahnya masing-masing dan melakukan praktek medis sesuai dengan aturan yang berlaku. Jangan lupa melakukan migrasi keanggotaan IDI, karena untuk melakukan praktek medis, harus membuat dulu Surat izin praktek yang sebelumnya harus ada rekomendasi dulu dari organisasi profesi IDI.
Perjalanan Belum Selesai
“Dokter adalah pembelajar sepanjang hayat” itu adalah kata-kata yang sering digaungkan selama masa perkuliahan dokter. Sejalan dengan selalu berkembangnya ilmu pengetahuan, termasuk juga dalam bidang medis, maka dokter harus selalu meng-update ilmunya agar selalu bisa membantu dan tidak membahayakan pasiennya. Secara praktis di lapangan, untuk bisa terus berpraktik dan memperpanjang masa aktif SIP, dokter akan diminta melampirkan surat tanda pemenuhan SKP.
SKP merupakan singkatan dari Satuan Kredit Profesi, yang bisa didapatkan salahsatunya dari ranah pembelajaran, seperti mengikuti seminar atau workshop. Dokter dituntut untuk mengumpulkan sejumlah SKP dalam waktu tertentu agar bisa berpraktek sesuai profesinya.
Apakah masih tertarik untuk menjadi seorang dokter?